Pembelajaran anak
berbakat
Oleh :
Arum fajar ing tyas
(11514692)
Andi siti nur is
naeni (10508016)
Ervina ulfah
safitri ( 13154650)
Kelas 1PA15
1.
Ciri-ciri
anak berbakat
1.
Anak
memiliki ciri khas Anak yang memiliki ciri khas biasnya akan nampak saat
dirinya sedang bermain besama teman-teman sebayanya. Si anak akan bertingkah
laku yang lebih dewasa sehingga kerika bermain dengan teman seusianya cenderung
memisah. Namun, bukan berarti si anak tak mau bermain dan berkumpul dengan
teman seusianya. Si anak sangat bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
2. Anak memiliki
cara belajar yang berbeda Si anak cenderung tidak bisa diam dan aktif terhadap
hal-hal baru. Selain itu, si anak juga lebih suka untuk mengeklspelor dan
mempelajari lebih lanjut sesuatu yang ada di sekelilingnya. Namun ketahuilah
bahwa tidak mau diam bukan berarti si anak hiperaktif.
3. Gaya bahasanya lebih dewasa Si anak lebih cepat
menyerap bahasa orang dewasa dan menirukannya. Untuk itu, jangan heran jika ada
anak yang mengikuti perkataan orang dewasa bahkan menirukannya. Selain
itu, si anak akan lebih cepat untuk menjawab pertanyaan yang diajukan
kepadanya.
4. Anak memiliki kosakata yang banyak Karena kemampuannya
untuk menyerap bahasa lebih cepat, si anak jadi memiliki kosakata yang lebih
banyak. Dengan begitu, si anak jadi mengerti kata-kata yang diucapkan
kepadanya. Bahkan, si anak bisa menyebutkan secara terperinci baik itu mengenai
benda atau saat menjawab pertanyaan yang diberikan kepadanya.
5.
Anak
memiliki keterampilan yang lebih Keterampilan lebih yang dimilikinya itu,
seperti memakai baju sendiri, memegang benda dengan posisi yang benar tanpa
kesulitan, dan keterampilan lainnya. Namun ketahuilah bahwa keterampilan itu
bisa saja dimiliki si anak asalkan Anda mau melatihnya dengan cara berenang,
bermain tenis, dan olahraga lainnya. Dengan berolahraga bisa melatih kemampuan
motorik kasarnya.
6 .Anak gemar mengoleksi benda. Misalnya, mainan, baju,
hiasan, dan lain sebagainya. Hal tersebut dikarenakan si anak menyukai
bentuknya, warnanya, serta modelnya. Tak heran jika si anak gemar
memilih-memilih atau mengelompokkan benda-benda kesukaannya itu.
7. Anak gemar membaca Saat usia si anak 1 tahunan,
dirinya akan mampu untuk membedakan gambar yang posisinya terbalik. Selain si
itu, si anak juga akan menunjukkan gerakan kepala dari kiri ke kanan
seolah-olah dirinya sedang membaca. Ketahuilah bahwa hampir 50 persen anak yang
berbakat sudah bisa membaca sejak usianya 2-2,5 tahun. Untuk merangsang anak
agar suka membaca, Anda juga bisa melatihnya dengan mendongengkan buku atau
sering bercerita kepadanya.
8. Memiliki kemampuan logika Anak berbakat akan mudah
memahami benda-benda yang besar dan kecil, serta membedakan banyak dan sedikit.
Selain itu, si anak juga mengerti mengenai berapa lama, berapa jauh, dan berapa
banyak. Dan anak berbakat juga bisa membedakan atas dan bawah, kiri dan kanan,
serta maju dan mundur.
9. Memiliki daya ingat yang cukup baik Daya ingat anak
berbakat sangat tinggi. Misalnya, si anak mampu mengingat kejadian yang sudah
lama dan mampu untuk mengungkapkannya kembali dengan baik. Apakah anak Anda
seperti itu?
10. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi Anak berbakat
cenderung lebih banyak bertanya terhadap apa yang belum dimengerti. Jika si
anak banyak bertanya pada apa yang tidak diketahuinya, maka sebagai orangtua
Anda harus memberikan jawaban untuknya. Berilah jawaban dengan baik dan jangan
biarkan si anak tanpa jawaban.
11. Pandai bersosialisasi Anak berbakat akan lebih senang
untuk bermain dengan teman di atas usianya. Dirinya akan merasa nyaman bermain
dengan teman yang usianya lebih tua darinya. Sedangkan, saat bermain dengan
teman seusianya si anak akan merasa tidak nyaman.
12. Memiliki energi yang kuat Setiap beraktivitas, si
anak selalu bersemangat karena dirinya memiliki energi yang kuat.
2.
Implikasi
dalam pembelajaran (teori barbed an renzulli)
Menurut definisi yang
dikemukakan Joseph Renzulli (1978), anak berbakat memiliki pengertian, “Anak
berbakat merupakan satu interaksi diantara tiga sifat dasar manusia yang
menyatu ikatan terdiri dari kemampuan umum dengan tingkatnya di atas kemampuan
rata- rata, komitmen yang tinggi terhadap tugas dan kreativitas yang tinggi.
·
High Potential Ability (Kecerdasan Tinggi)
Standard yang ditetapkan untuk anak berbakat oleh Diknas tahun 2003 adalah 140
. Kalau hasil tes menunjukkan IQ anak mencapai 140 ke atas, maka anak itu
otomatis disebut gifted child. Tetapi kemudian muncul pembagian tertentu untuk
anak berbakat dilihat dari IQnya. Keberbakatan ringan (IQ 115 – 129),
keberbakatan sedang (IQ 130 – 144), keberbakatan tinggi (IQ 145 ke atas).
·
Task Commitment adalah sejauh mana tanggung
jawab dalam meyelesaikan tugas. Tidak hanya tugas dari sekolah tapi juga tugas
di rumah. Task commitment dapat diukur melalui tes tertentu yang hanya boleh
dilakukan oleh psikolog. Task commitment ini mencakup tanggung jawab, motivasi,
keuletan, kepercayaan diri, memiliki tujuan yang jelas sebelum melakukan
sesuatu dan kemandirian.
·
Kreativitas bisa diartikan sebagai kemampuan
untuk menciptakan hal-hal baru atau kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi
baru dari yang sudah ada. Kreativitas dapat dinilai dari 4 hal, produk,
pribadi, proses dan pencetus / penghambat. Suatu produk dikatakan kreatif kalau
produk itu baru, berbeda dari yang sudah ada, lebih baik dari yang lain dan
tentu saja berguna. Sifat pribadi kreatif yang lain adalah terbuka pada hal-hal
baru, punya rasa ingin tau yang besar, ulet, mandiri, berani mengambil resiko,
berani tampil beda, percaya diri dan humoris.
Pengertian lain menyebutkan
bahwa anak gifted adalah anak yang mempunyai potensi unggul di atas potensi
yang dimiliki oleh anak-anak normal. Para ahli dalam bidang anak-anak gifted memiliki
pandangan sama ialah keunggulan lebih bersifat bawaan dari pada manipulasi
lingkungan sesudah anak dilahirkan.
Anak yang memiliki bakat
istimewa sering kali memiliki tahap perkembangan yang tidak serentak. Ia dapat
hidup dalam berbagai usia perkembangan, misalnya: anak berusia tiga tahun, jika
sedang bermain ia terlihat seperti anak seusianya, tetapi jika sedang membaca
ia menampilkan sikap seperti anak berusia 10 tahun, jika mengerjakan soal
matematika ia seperti anak berusia 12 tahun, dan jika berbicara seperti anak
berusia lima tahun.
Perlu dipahami adalah bahwa
anak berbakat umumnya tidak hanya belajar lebih cepat, tetapi juga sering
menggunakan cara yang berbeda dari teman-teman seusianya. Hal ini tidak jarang
membuat guru di sekolah mengalami kewalahan, bahkan sering merasa terganggu
dengan anak-anak seperti itu. Di samping itu anak berbakat istimewa biasanya
memiliki kemampuan menerima informasi dalam jumlah yang besar sekaligus. Jika
ia hanya mendapat sedikit informasi maka ia akan cepat menjadi “kehausan” akan
informasi.
Implikasi bagi guru anak
berbakat disimpulkan oleh Barbie dan Renzulli (1975) sebagai berikut:
·
guru perlu memahami diri sendiri, karena anak
yang belajar tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang dilakukan guru, tetapi juga
bagaimana guru melakukannya.
·
guru perlu memiliki pengertian tentang
keterbakatan
·
guru hendaknya mengusahakan suatu lingkungan
belajar sesuai dengan perkembangan yang unggul dari kemampuan-kemampuan anak
·
Guru memberikan tantangan daripada tekanan
·
Guru tidak hanya memperhatikan produk atau
hasil belajar siswa, tetapi lebih-lebih proses belajar.
·
Guru lebih baik memberikan umpan balik
daripada penilaian harus menyediakan beberapa alternatif strategi belajar
·
Guru hendaknya dapat menciptakan suasana di
dalam kelas yang menunjang rasa harga diri anak serta dimana anak merasa aman
dan berani mengambil resiko dalam menentukan pendapat dan keputusan.
3.
Kurikulum
berdifenstasi untuk anak berbakat
4.
Menambah hal-hal baru yang
menarik dan menantang bagi anak berbakat. Misalnya dengan
menambahkan muatan tugas yang dianggap menantang kemampuan yang dimiliki anak
berbakat.
5.
Mengubah bagian-bagian tertentu
yang kurang sesuai. Karena anak berbakat memiliki kemampuan memahami
pelajaran dan pengetahuan yang melampaui anak pada umumnya, biasanya pemberian
materi kepada anak berbakt lebih menyesuaika kemampuan anak. Sehingga, anada
beberapa bagian yang diterima anak umum di kelas tetapi tidak diterima oleh
anak berbakat.
6.
Mengurangi kegiatan-kegiatan
yang terlalu rutin. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, anak
berbakat memiliki tingkat kemampuan memahami pelajaran yang lebih tinggi
dibandingkan anak umum, jadi beberapa kegiatan atau pelajaran yang dapat
dikerjakan sendiri dan tanpa bantuan berarti dari pendidik sebaiknya dikurangi.
7.
Meluaskan dan mendalami materi. Karena sifat yang
cenderung kurang puas dan mendetail, pemberian materi pembelajaran kepada anak
berbakat sebaiknya lebih diluaskan dan mendalam.
