Perkembangan
dewasa
Menurut
Erik Erikson
oleh :
Nama
: arum fajar ing tyas
Kelas
: 1PA15
NPM
: 11514962
Perkembangan dewasa menurut Erik
Erikson
Erikson lahir di Frankurt Jerman pada tanggal 15 Juni 1902 dari Ayahnya adalah seorang
kebangsaan Denmark yang tidak dikenal namanya dan Ibunya, Karla Abrhamsen, adalah wanita
Yahudi. Orang tuanya berpisah sebelum Erik lahir. Ibunya, Karla kemudian menikah dengan
Dr. Theodore Homburger, lalu pindah ke Karlsruhe, Jerman Selatan.Erikson menyelesaikan pendidikan di Gymnasium. Pada usia 25 tahun ia diundang untuk mengajar di sebuah sekolah swasta di Wina. Erikson menjadi begitu tertarik pada pendidikan anak-anak. Erikson akhirnya memilih kesenian, karena ia memiliki bakat dan minat di bidang itu. Pada masa hidupnya ini (Erikson pada waktu itu berusia 25 tahun) terjadilah sesuatu yang membuatnya berubah secara drastis. Ia diundang untuk mengajar pada suatu sekolah swasta kecil, di Wina. Sekolah ini
dibangun sebagai tempat mendidik anak anak, sementara mereka dan (atau) orangtua mereka
menjalani psikoanalisis. Sekolah itu progresif dan guru guru serta murid murid diberi kebebasan penuh dalam mengembangkan kurikulum. Erikson menjadi begitu tertarik pada pendidikan anak anak sehingga ia mengikuti dan tamat dari sekolah pendidikan guru yang menerapkan metode Montessor.
Metode Montessori menekankan perkembangan inisiatif anak sendiri melalui permainan dan
pekerjaan. Pengealaman ini memiliki pengaruh yang tidak pernah hilang dalam diri Erikson.
Pengaruh lain yang lebih dalam ialah perkenalannya yang tak teralakan dengan psikoanalisis ialah ia berkenalan dengan perkumpulan Freud, mengikuti pendidikan psikoanalisis di bawah bimbingan
Anna Freud, mempelajari psikoloanalisis di Institut Psikoanalisis di Wina, dan tamat dari sana pada tahun 1933. Bisa dikatakan, ia telah menemukan identitas profesinya.Reputasi Erikson hampir seluruhnya berasal dari uraiannya tentang perkembangan psikososial sepanjang masa kehidupan, dari masa
bayi sampai masa tua, terutama konsep-konsepnya tentang identitas dan krisis identitas. Pada umumnya para psikolog lebih
menyukai tahap Erikson daripada tahap psikoseksual Freud. Mereka berpendapat bahwa Erikson
telah memberikan sumbangan untuk perkembangan kepribadian, setara dengan apa yang telah dilakukan Piaget tentang perkembangan intelektual. Erikson juga dikagumi karena observasinya yang tajam dan inteprestasinya yang peka dan perasaan kasihnya dalam terhadap segala sesuatu yang bersifat manusiawi. Erikson berkata bahwa orang-orang harus menemukan identitasnya dalam potensi-potensi masyarakatnya, sedangkan perkembangannya harus selaras dengan syarat-syarat yang dicanangkan masyarakat, atau mereka harus menanggung akibat-akibatnya.
Sumbangan penting yang telah diberikan Erikson meliputi dua topik utama yaitu teori psikososial
tentang perkembangan dari mana muncul suatu konsepsi yang luas tentang ego dan penelitian psikosejarah yang menerangkan psikososialnya.
TEORI PENTAHAPAN MENURUT ERIKSON (1963)
Sesudah masa remaja yaitu masa penemuan identitas sesorang sekaligus mamasuki masa dewasa awal yang ditandai oleh intimitasi vs isolasi, maka seseorang tinggal mengalami dua fase lagi meliputi sebagian besar masa hidupnya. Dalam fase ketujuh atau masa dewasa pertengahan sesorang dapat berkembang kearah generativitas vs stagnasi, sedangkan dalam fase kedelapan atau fase terakhir seseorang dapat berkembang kearah integritas-ego vs putus asa. Erikson percaya pada Fase generativitas vs stagnasi bahwa orang dewasa tengah berada pada posisi berbahaya menghadapi persoalan hidup yang signifikan.
Erikson (1968) percaya bahwa orang dewasa tengah baya menghadapi persoalan hidup yang signifikan-generativitas vs stagnasi, adalah nama yang diberikan Erikson pada fase ketujuh dalam teori masa hidupnya. Generativitas mencangkup rencana-rencana orang dewasa yang mereka harap dapat dikerjakan guna meninggalkan warisan dirinya sendiri pada generasi selanjutnya.
Sebaliknya, stagnasi (disebut juga “penyerapan-diri”) berkembang ketika individu merasa bahwa mereka tidak melakukan apa-apa bagi generasi berikutnya. Orang dewasa tengah baya mengembangkan generativitas dengan beberapa cara yang berbeda (Kotre, 1984).
Generativitas mencangkup rencana-rencana orang dewasa yang mereka harap dapat dikerjakan guna meninggalkan warisan dirinya sendiri pada generasi selanjutnya. Sebaliknya, stagnasi (disebut juga “penyerapan-diri”) berkembang ketika individu merasa bahwa mereka tidak melakukan apa-apa bagi generasi berikutnya. Orang dewasa tengah baya, mengembangkan generativitas dengan beberapa cara yang berbeda (Kotre, 1984).
Melalui generativitas biologis, orang dewasa hamil dan melahirkan anak. Melalui generativitas parental (orang tua), orang dewasa memberikan asuhan dan bimbingan kepada anak-anak. Melalui generativitas kultural, orang dewasa menciptakan, merenovasi atau memelihara kebudayaan yang akhirnya bertahan. Dalam hal ini objek generatif adalah kebudayaan itu sendiri. Melalui generativitas kerja, orang dewasa mengembangkan keahlian yang diturunkan kepada orang lain. Dalam hal ini, individu generaf adalah seseorang yang mempelajari keahlian. Melalui generativitas, orang dewasa mempromosikan dan membimbing generasi berikutnya melalui aspek-aspek penting kehidupan seperti menjadi orang tua (parenting), memimpin, mengajar dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat (Mc Adams, 1990). Orang dewasa generatif mengembangkan warissan diri yang posif dan kemudian memberikannya sebagai hadiah pada generasi berikutnya.
Pada masa ini seseorang tidak hanya di tuntut untuk memperhatikan perubahan-perubahan dirinya sendiri melainkan tuntutan tanggung jawab atas generasi selanjutnya, maka tingkah laku yang kreatif dalam mengembangkan kultur merupakan salah satu wujud generativias dan perilaku membangun. Perubahan yang harus di capai adalah menetralisir sifat egosentris (stagnasi). Fase ketujuh ini menurut Erikson akan menjadi tahap di mana diperlukan dalam pengasuhan generasi muda. Integritas ego atau integritas diri adalah perasaan menjadi bagian dari aturan yang ada di alam semesta, dengan cara seseorang mencintai sesame maka akan menimbulkan keteraturan dunia. Integritas ego juga memiliki arti masa penerimaan diri sendiri,mensyukuri nasib dan mencintai orang tua sebagai alat keberadaannya di dunia. Seseorang yang telah mencapai pertahanan diri (integritas diri) bersikap bijaksana dalam tingkah lakunya. Jalan pintas yang dilakukan oleh seseorang yang gagal dalam tahap ini akan memilih putus asa, hal ini akan menjadi sumber ketakutan yang mendalam sehingga seakan-akan tidak ada ruang lagi untuk bergerak lebih aktif dan dinamis. Perilaku yang ditimbulkan seperti penolakan terhadap orang lain, lembaga-lembaga tertentu bahkan dirinya sendiri.Vaillant melukiskan pertentangan antara “mempertahankan sesuatu yang bermakna dengan rigiditas” maksudnya, interaksi generasi tengah baya yang akan memasuki masa tua dan generasi muda yang ada di dunia kerja harus di seimbangkan. Generasi tengah baya memasuki masa tua lebih bersikap rigid, yaitu tidak mau menerima pandangan orang lain khususnya pandangan kaum muda. Sedang kaum muda akan berpikir rasional sesuai dangan pencapaian “dewasa” yang identic dengan kebijaksaan dalam bersikap.
Pada masa dewasa erik erikson membagi dalam 3 tahap yaitu :
1. Masa dewasa awal
Masa ini terjadi pada pada usia 20-40 tahun.
Erikson menyebut tahap ini intimacy vs isolation. Pada tahap ini pencarian dan
pembentukan relasi dengan teman sebaya mulai berkurang dan lebih fokus pada
usaha mempertahankan hubungan yang sudah terjalin dengan orang-orang yang
sepaham. Karakteristik menonjol yang terbentuk pada tahap ini adalah sikap
sabar dan kemampuan dalam memahami orang lain.
2. Masa dewasa madya
Pada masa ini terjadi antara usia 40-65 tahun. Erikson
menyebut tahap ini sebagai tahap generativyti vs stagnation. Pada tahap ini,
seorang individu telah mencapai puncak perkembangan dari segala kemampuannya.
Perhatian utama individu pada tahap ini terletak pada generativitas. Mereka
lebih berfokus pada hu ungan yang terjalin antara dirinya dan keturunannya.
Karaktristik yang menonjol yang terbntuk pada tahap inilah sikap peduli,
mengayomi, hangat, dan sedikit mengatur.
3. Masa dewasa akhir
Masa ini terjadi pada usia 65 tahun keatas.
Erikson menyebut tahap ini sebagai tahap ego integrity vs despair. Pada tahap
ini, individu telah benar-benar matang dari segi usia, dan kebijaksanaan.
Dorongan untuk berprestasi masih ada, namun keterbatasan fisik terkadang
menjadi penghalang bagi mereka. Perasaan terasing seringkali muncul sebagai
akibat dari kurangnya penerimaan diri terhadap kondisi fisik saat ini. Cerminan
diri akan masa lalu terkadang menyesali apa yang terjadi.


.jpg)
.jpg)