Kamis, 30 Oktober 2014

tugas pengantar psikologi umum

Perkembangan dewasa
Menurut Erik Erikson


oleh :
Nama : arum fajar ing tyas
Kelas : 1PA15
NPM : 11514962





Perkembangan dewasa menurut Erik  Erikson

Erikson lahir di Frankurt Jerman pada tanggal  15 Juni 1902 dari Ayahnya adalah seorang
 kebangsaan Denmark yang tidak dikenal namanya dan Ibunya, Karla Abrhamsen, adalah wanita 
Yahudi. Orang tuanya berpisah sebelum Erik lahir. Ibunya, Karla kemudian menikah dengan 
Dr. Theodore Homburger, lalu pindah ke Karlsruhe, Jerman Selatan.Erikson menyelesaikan pendidikan di Gymnasium. Pada usia 25 tahun ia diundang untuk mengajar di sebuah sekolah swasta di Wina. Erikson menjadi begitu tertarik pada pendidikan anak-anak. Erikson akhirnya memilih kesenian, karena ia memiliki bakat dan minat di bidang itu. Pada masa hidupnya ini (Erikson pada waktu itu berusia 25 tahun) terjadilah sesuatu yang membuatnya berubah secara drastis. Ia diundang untuk mengajar pada suatu sekolah swasta kecil, di Wina. Sekolah ini 
dibangun sebagai tempat mendidik anak anak, sementara mereka dan (atau) orangtua mereka 
menjalani psikoanalisis. Sekolah itu progresif dan guru guru serta murid murid diberi kebebasan penuh dalam mengembangkan kurikulum. Erikson menjadi begitu tertarik pada pendidikan anak anak sehingga ia mengikuti dan tamat dari sekolah pendidikan guru yang menerapkan metode Montessor. 
Metode Montessori menekankan perkembangan inisiatif anak sendiri melalui permainan dan 
pekerjaan. Pengealaman ini memiliki pengaruh yang tidak pernah hilang dalam diri Erikson.
 Pengaruh lain yang lebih dalam ialah perkenalannya yang tak teralakan dengan psikoanalisis ialah ia berkenalan dengan perkumpulan Freud, mengikuti pendidikan psikoanalisis di bawah bimbingan 
Anna Freud, mempelajari psikoloanalisis di Institut Psikoanalisis di Wina, dan tamat dari sana pada tahun 1933. Bisa dikatakan, ia telah menemukan identitas profesinya.Reputasi Erikson hampir seluruhnya berasal dari uraiannya tentang perkembangan psikososial sepanjang masa kehidupan, dari masa 
bayi sampai masa tua, terutama konsep-konsepnya tentang identitas dan krisis identitas. Pada umumnya para psikolog lebih 
menyukai tahap Erikson daripada tahap psikoseksual Freud. Mereka berpendapat bahwa Erikson 
telah memberikan sumbangan untuk perkembangan kepribadian, setara dengan apa yang telah dilakukan Piaget tentang perkembangan intelektual. Erikson juga dikagumi karena observasinya yang tajam dan inteprestasinya yang peka dan perasaan kasihnya dalam terhadap segala sesuatu yang bersifat manusiawi. Erikson berkata bahwa orang-orang harus menemukan identitasnya dalam potensi-potensi masyarakatnya, sedangkan perkembangannya harus selaras dengan syarat-syarat yang dicanangkan masyarakat, atau mereka harus menanggung akibat-akibatnya.
Sumbangan penting yang telah diberikan Erikson meliputi dua topik utama yaitu teori psikososial 
tentang perkembangan dari mana muncul suatu konsepsi yang luas tentang ego dan penelitian psikosejarah yang menerangkan psikososialnya.

TEORI PENTAHAPAN MENURUT ERIKSON (1963)

Sesudah masa remaja yaitu masa penemuan identitas sesorang sekaligus mamasuki masa dewasa awal yang ditandai oleh intimitasi vs isolasi, maka seseorang tinggal mengalami dua fase lagi meliputi sebagian besar masa hidupnya. Dalam fase ketujuh atau masa dewasa pertengahan sesorang dapat berkembang kearah generativitas vs stagnasi, sedangkan dalam fase kedelapan atau fase terakhir seseorang dapat berkembang kearah integritas-ego vs putus asa. Erikson percaya pada Fase generativitas vs stagnasi bahwa orang dewasa tengah berada pada posisi berbahaya menghadapi persoalan hidup yang signifikan.
Erikson (1968) percaya bahwa orang dewasa tengah baya menghadapi persoalan hidup yang signifikan-generativitas vs stagnasi, adalah nama yang diberikan Erikson pada fase ketujuh dalam teori masa hidupnya. Generativitas mencangkup rencana-rencana orang dewasa yang mereka harap dapat dikerjakan guna meninggalkan warisan dirinya sendiri pada generasi selanjutnya.
Sebaliknya, stagnasi (disebut juga “penyerapan-diri”) berkembang ketika individu merasa bahwa mereka tidak melakukan apa-apa bagi generasi berikutnya. Orang dewasa tengah baya mengembangkan generativitas dengan beberapa cara yang berbeda (Kotre, 1984).
Generativitas mencangkup rencana-rencana orang dewasa yang mereka harap dapat dikerjakan guna meninggalkan warisan dirinya sendiri pada generasi selanjutnya. Sebaliknya, stagnasi (disebut juga “penyerapan-diri”) berkembang ketika individu merasa bahwa mereka tidak melakukan apa-apa bagi generasi berikutnya. Orang dewasa tengah baya, mengembangkan generativitas dengan beberapa cara yang berbeda (Kotre, 1984).
Melalui generativitas biologis, orang dewasa hamil dan melahirkan anak. Melalui generativitas parental (orang tua), orang dewasa memberikan asuhan dan bimbingan kepada anak-anak. Melalui generativitas kultural, orang dewasa menciptakan, merenovasi atau memelihara kebudayaan yang akhirnya bertahan. Dalam hal ini objek generatif adalah kebudayaan itu sendiri.
Melalui generativitas kerja, orang dewasa mengembangkan keahlian yang diturunkan kepada orang lain. Dalam hal ini, individu generaf adalah seseorang yang mempelajari keahlian. Melalui generativitas, orang dewasa mempromosikan dan membimbing generasi berikutnya melalui aspek-aspek penting kehidupan seperti menjadi orang tua (parenting), memimpin, mengajar dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat (Mc Adams, 1990). Orang dewasa generatif mengembangkan warissan diri yang posif dan kemudian memberikannya sebagai hadiah pada generasi berikutnya.
Pada masa ini seseorang tidak hanya di tuntut untuk memperhatikan perubahan-perubahan dirinya sendiri melainkan tuntutan tanggung jawab atas generasi selanjutnya, maka tingkah laku yang kreatif dalam mengembangkan kultur merupakan salah satu wujud generativias dan perilaku membangun. Perubahan yang harus di capai adalah menetralisir sifat egosentris (stagnasi). Fase ketujuh ini menurut Erikson akan menjadi tahap di mana diperlukan dalam pengasuhan generasi muda.
Integritas ego atau integritas diri adalah perasaan menjadi bagian dari aturan yang ada di alam semesta, dengan cara seseorang mencintai sesame maka akan menimbulkan keteraturan dunia. Integritas ego juga memiliki arti masa penerimaan diri sendiri,mensyukuri nasib dan mencintai orang tua sebagai alat keberadaannya di dunia. Seseorang yang telah mencapai pertahanan diri (integritas diri) bersikap bijaksana dalam tingkah lakunya. Jalan pintas yang dilakukan oleh seseorang yang gagal dalam tahap ini akan memilih putus asa, hal ini akan menjadi sumber ketakutan yang mendalam sehingga seakan-akan tidak ada ruang lagi untuk bergerak lebih aktif dan dinamis. Perilaku yang ditimbulkan seperti penolakan terhadap orang lain, lembaga-lembaga tertentu bahkan dirinya sendiri.Vaillant melukiskan pertentangan antara “mempertahankan sesuatu yang bermakna dengan rigiditas” maksudnya, interaksi generasi tengah baya yang akan memasuki masa tua dan generasi muda yang ada di dunia kerja harus di seimbangkan. Generasi tengah baya memasuki masa tua lebih bersikap rigid, yaitu tidak mau menerima pandangan orang lain khususnya pandangan kaum muda. Sedang kaum muda akan berpikir rasional sesuai dangan pencapaian “dewasa” yang identic dengan kebijaksaan dalam bersikap.
Pada masa dewasa erik erikson membagi dalam 3 tahap yaitu :

1.      Masa dewasa awal
Masa ini terjadi pada pada usia 20-40 tahun. Erikson menyebut tahap ini intimacy vs isolation. Pada tahap ini pencarian dan pembentukan relasi dengan teman sebaya mulai berkurang dan lebih fokus pada usaha mempertahankan hubungan yang sudah terjalin dengan orang-orang yang sepaham. Karakteristik menonjol yang terbentuk pada tahap ini adalah sikap sabar dan kemampuan dalam memahami orang lain.

2.      Masa dewasa madya
Pada masa ini terjadi antara usia 40-65 tahun. Erikson menyebut tahap ini sebagai tahap generativyti vs stagnation. Pada tahap ini, seorang individu telah mencapai puncak perkembangan dari segala kemampuannya. Perhatian utama individu pada tahap ini terletak pada generativitas. Mereka lebih berfokus pada hu ungan yang terjalin antara dirinya dan keturunannya. Karaktristik yang menonjol yang terbntuk pada tahap inilah sikap peduli, mengayomi, hangat, dan sedikit mengatur.

3.      Masa dewasa akhir
Masa ini terjadi pada usia 65 tahun keatas. Erikson menyebut tahap ini sebagai tahap ego integrity vs despair. Pada tahap ini, individu telah benar-benar matang dari segi usia, dan kebijaksanaan. Dorongan untuk berprestasi masih ada, namun keterbatasan fisik terkadang menjadi penghalang bagi mereka. Perasaan terasing seringkali muncul sebagai akibat dari kurangnya penerimaan diri terhadap kondisi fisik saat ini. Cerminan diri akan masa lalu terkadang menyesali apa yang terjadi.

Jumat, 24 Oktober 2014


Manusia dan Kebudayaan




Oleh :
Arum fajar ing tyas
1PA15
Npm :11514965




Fakultas psikologi gunadarma
2014

Manusia dan Kebudayaan

 2.1 manusia
 Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan orang lain, oleh karena itu manusia senantiasa membutuhkan interaksi dengan manusia yang lain.
Adapun unsur yang membangun manusia adalah :
1.      Jasad : jasad yaitu badan kasar yang nampak dari luarnya, dapat dirabadan menempati ruang dan waktu.
2.      Hayat : hayat yaitu mengandung unsur hidup, yang ditandai dengan gerak
3.      Ruh : ruh yaitu bimbingan dan pimpinan tuhan , daya yang bersifat koseptual yang menjadi pusat lahirnya kebudayaan
4.      Nafs : nafs merupakan kesadaran tentang diri sendiri

2.2 hakekat manusia
a. makhluk ciptaan tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
Tubuh adalah materi yang dapat dilihat,diraba dan dirasa. Sedangkan jiwa ada didalam tubuh, tidak dapat dilihat, tidak dapat diraba dan bersifat abstrak. Jika manusia itu meninggal jiwa akan terlepas dari tubuhnya dan akan kembali kepada tuhan. Jiwa juga berfungsi sebagai penggerak dan sumber kehidupan.
b. makhluk ciptaan tuhan yang paling sempurna, jika dibanding dengan makhluk lainnya.
Kesempurnaan yang dimiliki manusia terletak pada adab dan budayanya, karena manusia dilengkapi oleh akal, perasaan dan kehendak Yang terdapat dalam jiwa manusia.
c. makhluk biokultural, yaitu makhluk hayati yang budayawi
sebagai makhluk hayati, manusia dapat dipelajari dari segi-segi anatomi. Sebagai makhluk budayawi manusia dapat dipelajari dari segi-segi :

1.      Kemasyarakatan
2.      Kekerabatan
3.      Psikologis sosial
4.      Kesenian
5.      Ekonomi
6.      Perkakas
7.      Bahasa dan sebagainya


d. makhluk ciptaan tuhan yang tyerkait dengan lingkungan (ekologi), mempunyai kualitas dan martabat karena kemampuan bekerja dan berkarya.
Manusia dalam konteks kehidupan kongkrit adalah makhluk alamiah yang terikat dengan lingkungannya(ekologi), memiliki sifat-sifat alamiah dan tunduk pada hukum alamiah juga.

2.3 kepribadian bangsa timur
Kepribadian bangsa timur dapat diartikan suatu sikap yang dkimiliki oleh sutu negara yang mentetukan penyesuain dirinya terhadap lingkungannya. Bangsa timur identik dengan benua asia yang sebagian besar pedunduknya berambut hitam, berkulit sawo matang dan ada pula yangberkulit putih bermata sipit. Sebagian cara berpakaian mereka sopan dan tertutup. Pada umumnya kepribadian bangsa timur adalah sangat terbuka dan toleran terhadap bangsa lain, tetapi selama masih sesuai dengan norma,serta adat istiadat yang berlaku.

2.4 pengertian kebudayaan
Menurut salah satu antropolog E.B.Tylor (1871) mendefinisikan kebudayaan sebagai kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian,moral,hukum,adat istiadat dan kemampuan-kemampuan yang didapatkan manusia sebagai anggota masyarakat.
Menurut A.L. krober dan C.khlukon mengatakan bahwa kebudayaan adalah manifestasi dari cara berfikir.
Menurut selo sumarjan dan soelaerman soemardi merumuskan bahwa kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat.
 Secara praktis kebudayaan merupakan sistem nilai dan gagasan utama.


2.5 unsur-unsur manusia
Kebudayaan setiap bangsa atau masyarakat terdiri dari unsur-unsur besar maupun kecil yang merupakan bagian dari suatu kebulatan yang bersifat sebagai suatu kesatuan. Unsur besar seperti contohnya seperti umpanya majelis permusyawaratan rakyat bila contoh kecilnya seperti sisir,kancing, dan lain sebagainya. Menurut C.kluckrohn di dalam karya berjudul universal categoris of culture mengemukan bahwa ada tujuh unsur kebudayaan universal yaitu :
1.      Sistem religi
Merupakan produk dari manusia sebagai makhluk homoreligius. Manusia yang memiliki kecerdasaan pikiran dan perasaan yang luhur, tanggap bahwa diatas kekuatannya terdapat kekuatan lain yang maha besar.
2.      Sistem organisasi masyarakat
Manusia sadar bahwa tubuhnya lemah namun memiliki akal, maka disusunlah organisasi kemasyarakatan dimana manusia bekerja sama untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya
3.      Sistem pengetahuan
Pengetahuan dapat diperoleh dari diri sendiri ataupun dari orang lain. Kemampuan orang untuk mengingat-ingat apa yang diperolehnya dan menyampaikannya melalui orang lain.
4.      Sistem mata pencaharian dan sistem-sistem ekonomi
Merupakan produk manusia sebagai homo ecomonicus menjadikan tingkat kehidupan manusia secara umum terus meningkat.
5.      Sistem teknologi dan peralatan
Bersumber dari kecerdasannya  dan dibantu dengan tenaganya yang dapat memegang sesuatu dengan erat, manusia mampu membuat dan mempergunakan alat.
6.      Bahasa
Bahasa manusia pada mulanya diwujudkandalam bentuk tanda (kode) yang kemudian disempurnakan dalam bentuk lisan dan akhirnya menjadi bentuk tulisan.
7.      Kesenian
Setelah manusia dapat memenuhi kebutuhan fisiknya., maka dibutuhkan kebutuhan psikisnya untuk dipenuhinya. Mereka atau manusia juga perlu pandangan  mata yang indah, suara yang merdu, yang semuanya dapat dipenuhi melalui kesenian.

2.6 wujud kebudayaan
Menurut dimensi waktunya, kebudayaan mempunyai tiga wujud yaitu :
1.      Kompleks gagasan,konsep dan pikiran manusia
Wujud ini biasa disebut sistem budaya, bersifat abstrak, tidak dapat dilihat dan perpusat pada kepala-kepala manusia yang menganutnya.
2.      Kompleks aktivitas
Berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi, bersifat kongkret dapat dinikmati atau diobservasi.
3.      Wujud sebagai benda
Aktivitas manusia tidak terlepas dari penggunaan peralatan. Sebagai hasil karya manusia untuk mencapai tujuannya.aktivitas karya manusia tersebut menghasilkan benda untuk berbagai keperluan hidupnya.


2.7 orientasi nilai budaya
Kebudayaan sebagai karya mnusia yang memiliki sistem nilai.
Menurut C.Kluckhon dalam karyanya Variation in Value Orientation(1961) sistem nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia, universal memiliki 5masalah pokok kehidupan manusia yaitu:
1.Hakekat Hidup manusia
Hakekat hidup untuk setiap kebudayaan berbeda secara ekstem : ada yang berusaha memadamkan hidup, adapula dengan pola-pola kelakuan tertentu menganggap hidup sebagai suatu hal yang baik.
2.Hakekat karya Manusia
Setiap budaya hakekatnya berbeda-beda, diantaranya ada yang beranggapan bahwa kerya bertujuan untuk hidup, karya memeberikan kehormatan dan tahta, karya merupakan gerak hidup untuk menambah karya lagi.
3.hakekat Waktu manusia
Hakekat waktu untuk setiap kebudayaan berbeda, ada yang berpandangan mementingkan orientasi masa lampau, ada yang berorientasi pada masa kini, ada pula yang masa depan.
4.Hakekat alam manusia
Ada kebudayaan yang menganggap manusia harus mengxploitasi alam dan memanfaatkan alam sebaik mungkin. Ada juga yang menganggap manusia harus selaras dengan alam dan menyerah pada alam.
5.Hakekat hubungan Manusia
Dalam hal inia ada yang mementingkan hubungan manusia dengan manusia, adapula yang berpandangan individualis.


2.8 perubahan kebudayaan
- faktor yang mempengaruhi perubahan kebudayaan :
1.faktor yang berasal dari masyarakat dan lingkungannya  sendiri,misalnya perubahan jumlah dan komposisi
2.faktor kedua yang mempengaruhi perubahan kebudayaan adalah perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup. Masyarakat yang hidupnya terbuka, yang berada dalam jalur-jalur hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan lain, cenderung untuk berubah secara lebih cepat.
3.adanya difusi kebudayaan, penemuan-penemuan baru, khususnya teknologi dan inovasi.
Didalam masyarakat juga banyak ditemui masyarakat yang mau menerima kebudayaan baru namun ada juga sebagian masyarakat yang menolak kebudayaan baru tersebut. Adapun fakto yang mempengaruhinya adalah :
1.      Terbiasanya masyarakat tersebut mempunyai hubungan/kontak kebudayaan dengan orang-orang yang berasal dari luar masyarakat tersebut, yang mempunyai kebudayaan yang berbeda.
2.      Kalau pandangan hidup dan nilai-nilai yang dominan dalam kebudayaan tersebut ditentukan oleh nilai-nilai yang bersumber pada ajaran agama; dan ajaran ini terjalin erat dalam keseluruhan pranata yang ada dalam masyarakat tersebut; maka penerimaan unsur-unsur kebudayaan yang baru atau asing selalu mengalami kelambatan karena harus di sensor dulu oleh berbagai ukuran yang berlandaskan pada ajaran agama yang berlaku.
3.      Corak struktur sosial suatu masyarakat turut menentukan proses penerimaan unsur kebudayaan baru.
4.      Suatu unsur kebudayaan baru dengan lebih mudah diterima oleh suatu masyarakat kalau sebelumnya sudah ada unsur-unsur kebudayaan yang menjadi landasan bagi diterimanya unsur kebudayaan yang baru tersebut.
5.      Sebuah unsur baru yang mempunyai skala kegiatan yang terbatas dan dapat dengan mudah dibuktikan kebenarannya oleh warga masyarakat yang bersangkutan, dibandingkan dengan sesuatu unsur kebudayaan yang mempunyai skala luas dan yang sukar secara konkrit dibuktikan kegunaannya.



2.9  kaitan manusia dan kebudayaan
Secara sederhana hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah manusia sebagai perilaku kebudayaan. Dan kebudayaan merupakan obyek yang dilaksanakan manusia. Tetapi apakah sesederhana itu hubungan keduanya? Dalam sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya adalah bahwa walaupun keduanya berbeda tapi keduanya merupakan satu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan. Dan setelah kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai dengannya. Tampak bahwa keduanya akhirnya merupakan satu kesatuan.

 Contoh :
1. Kebudayaan-kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan
Contoh: Adat-istiadat melamar di Lampung dan Minangkabau. Di Minangkabau biasanya pihak permpuan yang melamar sedangkan di Lampung, pihak laki-laki yang melamar.


2. Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda ( urban dan rural ways of life )
Contoh: Perbedaan anak yang dibesarkan di kota dengan seorang anak yang dibesarkan di desa. Anak kota bersikap lebih terbuka dan berani untuk menonjolkan diri di antara teman-temannya sedangkan seorang anak desa lebih mempunyai sikap percaya pada diri sendiri dan sikap menilai ( sense of value)
3. Kebudayaan-kebudayaan khusus kelas sosial
Di masyarakat dapat dijumpai lapisan sosial yang kita kenal, ada lapisan sosial tinggi, rendah dan menengah. Misalnya cara berpakaian, etiket, pergaulan, bahasa sehari-hari dan cara mengisi waktu senggang. Masing-masing kelas mempunyai kebudayaan yang tidak sama, menghasilkan kepribadian yang tersendiri pula pada setiap individu.
4. Kebudayaan khusus atas dasar agama
Adanya berbagai masalah di dalam satu agama pun melahirkan kepribadian yang berbeda-beda di kalangan umatnya.

5. Kebudayaan berdasarkan profesi
Misalnya: kepribadian seorang dokter berbeda dengan kepribadian seorang pengacara dan itu semua berpengaruh pada suasana kekeluargaan dan cara mereka bergaul. Contoh lain seorang militer mempunyai kepribadian yang sangat erat hubungan dengan tugas-tugasnya. Keluarganya juga sudah biasa berpindah tempat tinggal.






                                                                                                                          



Sabtu, 18 Oktober 2014


ISD sebagai salah satu MKDU



Oleh :
Arum fajar ing tyas
1PA15
Npm :11514965
fakultas psikologi
tahun 2014 





1.1         pengetian, tujuan, ISD dan IPS

a. pengertian dan tujuan ISD dan IPS
ISD adalah ilmu yang mempelajari masalah-masalah sosial, khususnya masalah-masalah yang diwujudkan oleh masyarakat indonesia dengan menggunakn teori-teori yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan keahlian dalam lapangan ilmu-ilmu sosial(geografi sosial, antropologi, ilmu politik, ekonomi, psikologi sosial dan sejarah).
IPS adalah suatu bahan kajian yang terpadu yang merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi dan modifikasi yang diorganisasikan dari konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sejarah, geografi, sosiologi, antropologi, dan ekonomi. 

b. Tujuan ISD dan IPS
Ilmu sosial dasar memiliki tujuan sebagai beriku :
1- Memahami dan menyadari adanya kenyataan-kenyataan sosial dan masalah-masalah sosial yang ada didalam masyarakat.
2-   Peka terhadap masalah-masalah sosial dan tanggap untuk ikut serta dalam usaha-usaha menaggulanginya.
3-Menyadari bahwa setiap masalah sosial yang timbul dalam masyarakat selalu bersifat kompleks dan hanya dapat mendekatinya(mempelajarinya)secara kritis.
4- Memahami jalan fikran para ahli dari bidang ilmu pengetahuan lain dan dapat berkomunikasi dengan mereka dalam rangka penanggulan masalah sosial yang timbul dalam masyarakat.
d
aadapun tujuan dari IPS adalah :
a.    Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.
b. Memilki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.
c.    Memilki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
d.   Memilki kemampuan untuk berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, ditingkat lokal, nasional dan global.


c.  3 kelompok ilmu pengetahuan
Berdasarkan sumber ilmu filsafat yang di anggap sebagai ibu dari ilmu  maka ilmu pengetahuan di kelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu :
1.      Ilmu Pengetahuan Alam (natural science). Ilmu-ilmu alamiah bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah.
2.      Ilmu Pengetahuan Sosial (social science). ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antara manusia. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu alamiah.

3.      Pengetahuan budaya (the humanities) bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan kenyataan-kenyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti. ilmu-ilmu pengetahuan yang dianggap bertujuan membuat manusia lebih manusiawi, dalam arti membuat manusia lebih berbudaya. Kategori yang tergolong dalam ilmu ini seperti (Teologi, Filsafat,H ukum, Sejarah, Filologi, Bahasa, Budaya & Linguistik (Kajian bahasa), Kesusastraan, Kesenian, Psikologi). Sedangkan Ilmu Budaya Dasar adalah suatu ilmu yang mempelajari dasar dasar kebudayaan pola yang terjadi dalah kehidupan sehari – hari dalam manusia.


1.2         ISD dan IPS

a. persamaan ISD dan IPS
1. Kedua-duanya merupakan bahan studi untuk kepentingan programpendidikan/pengajaran.
2. Keduanya bukan disiplin ilmu yang berdiri sendiri.
3. Keduanya mempunyai materi yang terdiri dari kenyataan sosial dan masalah sosial.

b. perbedaan ISD dan IPS
1. Ilmu Sosial Dasar diberikan di Perguruan Tinggi, sedang Ilmu PengetahuanSosial diberikan di Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan.
2. Ilmu Sosial Dasar merupakan satu matakuliah tunggal, sedang IlmuPengetahuan Sosial merupakan kelompok dari sejumlah mata pelajaran(untuk sekolah lanjutan).
3. Ilmu Sosial Dasar diarahkan kepada pembentukan sikap dan kepribadian,sedang Ilmu Pengetahuan Sosial diarahkan kepada pembentukanpengetahuan dan ketrampilan intelektual.

1.3Ruang lingkup ISD

adapun 3 golongan bahan ajar pejaran ISD adalah sebagai beriku :
1. kenyataan-kenyataan sosial yang ada dalam masyarakat , yang secara bersama-sama merupakan masalah sosial tertentu.
2. konsep-konsep sosial atau pengertian –pengertian tentang kenyataan-kenyataan sosial dibatasi pada konsep dasar atau elementer saja yang sangat diperlukan untuk mempelajari masalah-masalah sosial yang dibahas dalam ilmu pengetahuan sosial.
3. masalah-masalah yang timbul dalam masyarakat, biasanya terlibat dalam berbagai kenyataan-kenyataan sosial yang antara yang satu dengan yang lainnya berbeda.